Dalam acara 2026 IEEE International Symposium on Circuits and Systems (ISCAS) pada 25 Mei 2026 lalu, Huawei memperkenalkan istilah baru dalam pengembangan chip: Tau (τ) Scaling Law dan LogicFolding. Keduanya terdengar teknis, tetapi gagasan dasarnya cukup mudah dipahami. Huawei ingin meningkatkan kemampuan chip bukan hanya dengan mengecilkan transistor, melainkan juga dengan mempersingkat waktu tempuh sinyal di dalam chip.
Pendekatan ini penting karena industri semikonduktor menghadapi masalah yang semakin rumit. Ketika transistor makin kecil dan jumlahnya makin banyak, performa chip tidak otomatis meningkat secara efisien. Jalur yang dilalui sinyal, konsumsi daya, panas, serta desain keseluruhan chip ikut menentukan hasil akhirnya.
Huawei menyebut Tau (τ) Scaling Law sebagai kerangka untuk menghadapi persoalan tersebut. Selanjutnya, LogicFolding menjadi salah satu teknologi yang dikaitkan dengan penerapannya. Namun, ada batas penting yang perlu dipahami sejak awal: pembahasan ini bukan berarti Huawei sudah memiliki chip smartphone komersial dengan proses fabrikasi 1,4 nm.
- Fokus pengembangan chip beralih dari ukuran transistor ke kecepatan transmisi sinyal.
- Tau Scaling Law merupakan kerangka optimasi jeda waktu perjalanan sinyal.
- LogicFolding menggunakan teknik pelipatan logika sirkuit 3D untuk efisiensi jalur.
- Target kepadatan setara 1,4 nm dicapai lewat optimasi arsitektur vertikal.
- Bukan berarti Huawei telah memproduksi chip smartphone komersial 1,4 nm.
Untuk teman Gizfin yang ingin melihat konteks pengumuman awalnya, Gizfin juga telah membahas roadmap teknologi chip Kirin Huawei hingga 2031.
Apa Itu Tau Scaling Law?
Tau Scaling Law adalah pendekatan Huawei untuk meningkatkan performa, efisiensi energi, dan kepadatan transistor dengan berfokus pada waktu tempuh sinyal. Dalam publikasi resminya, Huawei menyebut time scaling sebagai prinsip panduan untuk pengembangan chip berikutnya.
Istilah “tau” merujuk pada waktu atau jeda. Dalam konteks chip, pertanyaan utamanya bukan sekadar “seberapa kecil transistornya?”, tetapi juga “seberapa cepat sinyal bisa bergerak dari satu bagian chip ke bagian lain?”
Bayangkan sebuah kota. Menambah jumlah rumah dan gedung dapat meningkatkan kapasitas kota, tetapi belum tentu membuat perjalanan lebih cepat. Jika jalan terlalu panjang, persimpangan terlalu rumit, dan lalu lintas terlalu padat, waktu tempuh tetap menjadi masalah. Chip menghadapi tantangan serupa: makin banyak transistor tidak selalu berarti makin cepat atau makin hemat energi.
Dengan Tau Scaling Law, Huawei ingin mengurangi jeda tersebut melalui optimasi pada beberapa tingkat sekaligus.
Apa Itu LogicFolding?
LogicFolding adalah salah satu teknologi yang Huawei kaitkan dengan Tau Scaling Law. Menurut Huawei, LogicFolding dapat mempersingkat waktu propagasi sinyal dan meningkatkan kepadatan transistor.
Pada tingkat rangkaian (circuit), sinyal harus melewati jalur tertentu sebelum suatu instruksi selesai diproses. Jalur yang panjang menambah hambatan dan kapasitansi listrik. Akibatnya, sinyal membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan dan energi yang dipakai dapat bertambah.
LogicFolding mencoba memadatkan jalur penting tersebut. Analogi sederhananya seperti memindahkan dua kantor yang sering bekerja sama ke lantai yang berdekatan, alih-alih membiarkan pegawainya bolak-balik melintasi gedung yang panjang.
Berdasarkan presentasi resmi Huawei, LogicFolding Design untuk Kirin 2026 digambarkan menggunakan susunan dua lapis. Gambaran tersebut membantu menjelaskan arah desainnya, tetapi tidak boleh langsung dibaca sebagai diagram fisik lengkap chip Kirin terbaru tersebut.
Bedanya Dengan Moore’s Law
Moore’s Law umumnya dipahami sebagai pengamatan bahwa jumlah transistor dalam chip meningkat secara berkala. Selama puluhan tahun, penyusutan transistor menjadi salah satu cara utama untuk memperoleh chip yang lebih bertenaga dan efisien.
Tetapi masalahnya, penyusutan geometris semakin sulit dan mahal. Transistor yang lebih kecil tetap berguna, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya jawaban. Hambatan pada jalur sinyal, panas, kebutuhan daya, dan kompleksitas manufaktur semakin berpengaruh.
Walaupun Huawei mengenalkan terobosan Tau Scaling Law, hal tersebut tidak harus bukan berarti pengganti mutlak Moore’s Law. Pendekatan ini lebih tepat dipahami sebagai perluasan fokus: ukuran transistor tetap penting, tetapi waktu tempuh sinyal ikut diperlakukan sebagai sasaran optimasi utama.

Cara Kerjanya Secara Sederhana
Huawei menjelaskan bahwa optimasi berdasarkan Tau Scaling Law dilakukan pada empat tingkat, yaitu: perangkat, rangkaian, chip, dan sistem.
| Tingkat optimasi | Pertanyaan sederhananya | Tujuan |
|---|---|---|
| Perangkat | Bagaimana karakter fisik komponen dapat diperbaiki? | Mengurangi jeda pada tingkat dasar |
| Rangkaian (Circuit) | Bisakah jalur kritis dibuat lebih pendek? | Mempercepat propagasi sinyal, termasuk melalui LogicFolding |
| Chip | Bagaimana bagian-bagian chip dirancang agar bekerja lebih efisien? | Menyeimbangkan performa, kepadatan, dan konsumsi daya |
| Sistem | Bagaimana seluruh sistem berkomunikasi dan menangani beban kerja? | Mengurangi jeda di luar satu rangkaian saja |

Keempat tingkat tersebut saling berkaitan. Mengubah satu bagian tanpa memperhatikan bagian lain dapat memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Jalur sinyal mungkin lebih pendek, misalnya, tetapi desain tetap harus mampu menangani panas dan diproduksi secara konsisten.
Contoh Praktis: Mengapa Jalur Sinyal Pendek Penting?
Misalkan sebuah paket harus berpindah dari gudang ke toko. Ada dua pilihan: melewati banyak jalan kecil dengan beberapa persimpangan, atau menggunakan rute yang lebih pendek dengan hambatan lebih sedikit. Paket yang sama dapat tiba lebih cepat melalui rute kedua.
Sinyal listrik di dalam chip bekerja dengan tantangan serupa. Memperpendek rute tidak otomatis menyelesaikan semua masalah, tetapi dapat membantu menekan jeda dan konsumsi energi.
Berdasarkan materi presentasi resmi Huawei serta preprint akademik resmi He Tingbo (ChinaXiv:202605.00224v2), perusahaan memperlihatkan sejumlah angka untuk menggambarkan capaian pendekatan tersebut:

- kepadatan transistor meningkat dari 155 juta menjadi 238 juta transistor per mm2 (kini terverifikasi silang oleh materi presentasi resmi dan preprint akademik);
- efisiensi energi performance core SoC meningkat 41 persen;
- kecepatan clock maksimum meningkat 12,7% (mendekati 13% berdasarkan paper He Tingbo).
Walaupun angka-angka tersebut terbilang “wah”, namun hal tersebut harus dibaca sebagai klaim Huawei. Angka-angka tersebut juga didukung dengan publikasi preprint akademik resmi, bukan sebagai hasil pengujian pihak ketiga yang sepenuhnya independen.
Dalam pengujian iso-performance yang sama, paper akademik tersebut juga mencatat penurunan kerapatan daya (power density) sebesar 5,6%. Penting dipahami juga bahwa penurunan konsumsi daya 41% dan penurunan kerapatan daya 5,6% tersebut adalah dua pengukuran berbeda pada kondisi pengujian yang sama, bukan angka yang tumpang tindih. Konsumsi daya mengukur total energi listrik yang diserap chip saat bekerja, sedangkan kerapatan daya mengukur seberapa padat energi dan panas yang dihasilkan pada setiap satuan luas silikon.
Apa Artinya Untuk Kirin 2026?
Huawei menyatakan bahwa keluarga chip Kirin yang direncanakan hadir pada paruh kedua 2026 akan menjadi penerapan komersial pertama Tau Scaling Law dengan arsitektur LogicFolding. Roadmap ini telah dipaparkan dalam presentasi resmi Huawei, namun realisasi di pasar komersial membawa kepastian yang mengoreksi rumor awal.
Huawei Central sebelumnya sempat memprediksi bahwa chip tersebut akan muncul pada lini Mate 90 dengan catatan belum dikonfirmasi resmi.
Dengan hadirnya Kirin 9050 Pro di pasar komersial, pembuktian arsitektur ini beralih dari panggung pengumuman ke tangan konsumen. Teman Gizfin yang mengikuti perkembangan ini dapat memperhatikan tiga aspek utama saat menguji perangkat dengan chip Kirin terbaru ini secara langsung: performa dalam penggunaan aplikasi harian, ketahanan konsumsi daya baterai, dan stabilitas suhu perangkat pada form-factor lipat tiga. Angka teknis di atas kertas kini memiliki produk pembanding fisik di dunia nyata.
Apakah Huawei Sudah Punya Chip 1,4 nm?
Belum. Huawei menyatakan target untuk mencapai kepadatan transistor setara proses 14 angstrom atau 1,4 nm pada chip kelas atas pada tahun 2031. Ini adalah target roadmap, bukan pengumuman pasti bahwa Huawei sudah memproduksi chip smartphone komersial 1,4 nm.
Frasa “kepadatan setara 1,4 nm” juga perlu dibedakan dari node fabrikasi 1,4 nm. Node fabrikasi berkaitan dengan proses manufaktur semikonduktor. Sementara itu, kepadatan setara menggambarkan hasil yang ingin dicapai melalui kombinasi desain, susunan rangkaian, dan optimasi lainnya.
Dengan kata lain, Huawei sedang membicarakan hasil yang ingin dicapai, bukan mengklaim telah memakai proses fabrikasi 1,4 nm pada produk yang tersedia di pasar.

Dari Chip Datar Ke Integrasi Vertikal
LogicFolding dapat membantu teman Gizfin memahami mengapa industri chip tidak hanya membicarakan penyusutan transistor. Ketika ruang pada bidang datar semakin terbatas, integrasi vertikal menjadi salah satu arah yang masuk akal untuk dieksplorasi.
Kembali ke analogi kota: bila perjalanan antargedung terlalu jauh, salah satu pilihan adalah menempatkan fungsi yang sering berkomunikasi pada lantai yang lebih dekat. Jarak dapat dipangkas, tetapi desain bangunannya menjadi lebih rumit.
Pada implementasi LogicFolding generasi ini, publikasi resmi mencatat jarak antar titik sambungan vertikal (bonding pitch) berada pada angka 1,5 mikrometer (µm), dengan sasaran rasio transmisi (gear ratio) mendekati 1. Dalam bahasa awam, gear ratio dapat dipahami sebagai perbandingan antara jarak sambungan vertikal antarlapisan terhadap jarak antarjalur logam di lapisan atas chip. Semakin kecil rasionya dan mendekati angka 1, semakin optimal pertukaran sinyal vertikal antarlapisan tanpa memicu kemacetan interkoneksi di dalam silikon.
Pada chip, kompleksitas integrasi vertikal tentu bukan perkara kecil. Susunan vertikal membawa pertanyaan lanjutan tentang panas, konsumsi daya, perangkat desain elektronik, manufaktur, dan hasil produksi yang konsisten. Detail implementasi LogicFolding perlu dinilai dari bukti teknis tambahan dan produk komersial, bukan hanya dari analoginya.
Apa Yang Masih Perlu Dibuktikan?
Saat ini, Tau Scaling Law menawarkan cara pandang lain yang menarik, tetapi beberapa hal penting tentu saja masih terbuka.
Pertama, hasil pada produk komersial perlu diuji secara independen. Klaim efisiensi dan performa dari Huawei perlu dibandingkan dengan hasil pengujian perangkat yang benar-benar dijual. Dalam hal ini, pengujian produk smartphone dengan chipset Kirin 2026 akan menjadi percobaan perdana.
Kedua, integrasi yang lebih rapat dapat memperumit pengelolaan panas. Chip yang cepat tetapi mudah panas atau boros daya belum tentu memberi pengalaman pengguna yang lebih baik.
Ketiga, manufaktur dalam skala besar tetap menjadi tantangan. Yield atau persentase chip layak pakai, biaya produksi, kemampuan pemasok, dan konsistensi kualitas akan menentukan apakah pendekatan ini dapat diterapkan secara luas.
Keempat, roadmap adalah rencana, bukan jaminan. Target 2026 dan 2031 perlu ditinjau lagi jika Huawei mengumumkan produk atau detail teknis tambahan.
Dampaknya Untuk Pengguna Huawei Di Indonesia
Bagi pengguna di Indonesia, Tau Scaling Law belum membawa perubahan langsung. Hingga September 2026 ini, Huawei sendiri belum mengumumkan ketersediaan resmi perangkat berchipset Kirin 9050 Pro untuk pasar Indonesia.
Namun, arah pengembangannya tetap relevan dan patut kita pantau. Jika teknologi ini masuk ke perangkat konsumen dan tersedia resmi di Indonesia, teman Gizfin dapat menilai dampaknya melalui hal-hal yang terasa dalam pemakaian: performa aplikasi, daya tahan baterai, suhu perangkat, stabilitas, serta harga.
Bagi teman Gizfin yang saat ini sudah menggunakan atau berencana membeli HP Huawei, Anda bisa menyimak panduan HP Huawei tanpa Google di Indonesia untuk mendapatkan gambaran praktis mengenai kompatibilitas aplikasi harian.
Untuk saat ini, sikap yang paling masuk akal adalah mengikuti perkembangannya tanpa terburu-buru menganggap target roadmap chip Huawei sebagai kemampuan produk yang sudah tersedia di toko lokal.
Miskonsepsi Yang Perlu Dihindari
| Miskonsepsi | Penjelasan |
|---|---|
| Huawei sudah punya chip smartphone 1,4 nm | Belum. Huawei menyebut target kepadatan transistor setara 1,4 nm pada tahun 2031. |
| Tau Scaling Law menggantikan Moore’s Law | Tidak sesederhana itu. Tau Scaling Law menambah fokus pada waktu tempuh sinyal dan optimasi lintas tingkat. |
| LogicFolding hanya berarti menumpuk chip | LogicFolding berkaitan dengan upaya mempersingkat jalur sinyal. Detail implementasinya masih perlu dibuktikan melalui dokumentasi teknis dan produk komersial. |
| Klaim performa Huawei sudah sama dengan benchmark independen | Belum. Angka dari livestream resmi tetap merupakan klaim perusahaan sampai diuji oleh pihak independen. |
| Pengguna Indonesia akan segera mendapat perangkatnya | Hingga artikel ini dibuat pada 2 Juni 2026 dan diperbaharui 19 September 2026, belum ada pengumuman resmi untuk pasar Indonesia. |
FAQ Tau Scaling Law dan LogicFolding Huawei
Tau merujuk pada waktu atau jeda. Huawei menggunakannya untuk menekankan pentingnya mempersingkat waktu tempuh sinyal di dalam chip.
Tau Scaling Law adalah kerangka optimasinya. LogicFolding adalah salah satu teknologi yang Huawei kaitkan dengan penerapan kerangka tersebut, terutama untuk mempersingkat jalur propagasi sinyal.
Tidak. LogicFolding berkaitan dengan desain dan susunan logika chip. Proses fabrikasi adalah aspek manufaktur yang berbeda.
Tau Scaling Law dan arsitektur LogicFolding telah resmi debut komersial pertama kali pada chipset Kirin 9050 Pro yang mentenagai ponsel tri-fold HUAWEI Mate XT 2 Ultimate Design pada September 2026. Kehadiran perangkat ini mengonfirmasi realisasi awal arsitektur LogicFolding Huawei pada lini flagship konsumen.
Huawei menyatakan target kepadatan transistor setara proses 14 angstrom atau 1,4 nm untuk chip kelas atas pada 2031. Itu tidak sama dengan konfirmasi penggunaan node fabrikasi 1,4 nm pada produk komersial.
Hingga artikel ini dibuat pada 2 Juni 2026 dan pembaruan artikel pada 19 September 2026, belum ada pengumuman resmi mengenai ketersediaannya di Indonesia.
Kesimpulan
Tau Scaling Law adalah cara Huawei memindahkan fokus dari sekadar ukuran transistor ke persoalan yang sama pentingnya: waktu tempuh sinyal. Teknologi LogicFolding menjadi salah satu teknologi yang diharapkan dapat mempersingkat jalur tersebut dan meningkatkan kepadatan transistor.
Pendekatan ini menarik karena menunjukkan bahwa masa depan chip tidak hanya bergantung pada transistor yang semakin kecil. Namun, klaim teknis tetap perlu dibaca dengan disiplin. Kirin 9050 Pro telah menjadi tonggak pembuktian awal implementasi LogicFolding di dunia nyata, sedangkan target kepadatan setara 1,4 nm pada 2031 masih merupakan sasaran jangka panjang. Di sisi lain, target kepadatan setara 1,4 nm pada tahun 2031 masih merupakan sasaran jangka panjang.
Kita lihat bagaimana terobosan Huawei ini akan berdampak pada persaingan abadi di bidang semikonduktor.



